Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Buku ini menjelaskan dengan sangat gamblang. Membuka cakrawala pikiran Anda."
Jeffrey Tucker, editor eksekutif dari Laissez Faire Books

Catatan tambahan - Libertarianisme dan demokrasi



Kritik kami terhadap demokrasi ditulis dari perspektif libertarian. Libertarianisme adalah filsafat politik didasarkan pada kepemilikan pribadi, yaitu hak setiap individu atas tubuhnya, hidupnya dan dengan demikian hasil kerjanya. Alternatif bagi pemerintahan diri sendiri adalah bahwa beberapa orang memerintah kehidupan dan pekerjaan orang lain (atau - tapi ini sangat kurang realis - bahwa setiap orang memerintah setiap orang lainnya). Menurut libertarianisme situasi seperti ini tidak adil. Libertarianisme didasarkan pada prinsip bahwa individu tidak memiliki kewajiban untuk mengorbankan dirinya kepada kepentingan kolektif (negara), seperti yang dituntut dalam sosialisme, fasisme dan demokrasi.

Untuk seorang libertarian kebebasan individu atau kepemilikan pribadi (self-ownership) tidak berarti setiap orang ‘berhak’ untuk bekerja, pendidikan, kesehatan, perumahan atau beberapa hal lainnya, karena 'hak' menyiratkan adalah menjadi tugas orang lain untuk memberikan hal-hal tersebut. Jika seseorang dipaksa untuk mengorbankan dirinya bagi orang lain, itu bukan kebebasan, tapi perbudakan. Kebebasan berarti bahwa setiap orang memiliki hak untuk melakukan apa yang dia inginkan dengan kehidupannya dan hartanya, selama dia tidak mengganggu kehidupan dan milik orang lain. Singkatnya, libertarian menentang inisiasi kekuatan fisik.

Tujuan utama dari sistem keadilan libertarian adalah melindungi individu terhadap segala bentuk kekerasan. Orang-orang libertarian mendukung semua bentuk kebebasan yang mengikuti prinsip pemerintahan pribadi. Misalnya, kami mendukung kebebasan beragama, kebebasan untuk mengakhiri hidup (euthanasia), legalisasi narkoba, kebebasan berbicara, dan sebagainya. Kami juga mendukung hak masyarakat untuk berserikat, bekerja-sama, bergotong-royong dan berdagang dengan bebas, seperti untuk pasar bebas.

Kami percaya bahwa individu dan kelompok/komunitas memiliki hak untuk membuat aturan mereka sendiri mengenai penggunaan properti milik mereka. Sama seperti semua orang diperbolehkan untuk memutuskan siapa mereka ingin ajak berkunjung ke rumahnya, pemilik bar harus diizinkan untuk memutuskan sendiri apakah orang-orang diizinkan untuk merokok di barnya dan majikan harus diizinkan untuk memutuskan sendiri kode berpakaian dalam perusahaannya. Siapapun bebas untuk tidak mengunjungi sebuah bar, atau tidak bekerja untuk sebuah perusahaan, jika mereka tidak menyukai aturannya.

Oleh sebab ini, libertarianisme menentang hukum anti-diskriminasi. Hukum tersebut tidak sesuai dengan prinsip asosiasi bebas. Pemerintah memutuskan bahwa: Engkau harus bergabung! Tidak menjadi masalah Anda suka atau tidak. Sebaliknya, libertarianisme didasarkan pada kebebasan untuk memilih. Semua hubungan dan transaksi harus bersifat sukarela.

Diskriminasi berarti: Memperlakukan masing orang secara berbeda. Tentu saja sifat tidak mau bergaul dengan orang gay, Yahudi, Jerman atau siapa pun konyol, tetapi prinsip kebebasan berarti pilihan pribadi tidak harus disahkan, tidak peduli seberapa konyol pilihannya. Anda tidak perlu alasan yang bagus untuk menolak melakukan sesuatu. Libertarianisme membela hak orang untuk melakukan hal-hal, atau tidak melakukan hal-hal, yang mungkin akan berbeda dengan pandangan orang lain. Sama seperti kebebasan berbicara berarti bahwa orang memiliki hak untuk mengekspresikan pendapat yang mungkin berbeda dengan pendapat orang lain. Kewajiban utama rakyat adalah menahan diri dan tidak melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Hukum-hukum anti-diskriminasi sendiri pada kenyataannya adalah bentuk kekerasan, karena mereka memaksa orang untuk bergaul dengan orang lain yang bertentangan dengan keinginannya. Haruskah kita memaksa wanita tua untuk memasuki lorong-lorong gelap di mana berandalan yang suka kekerasan nongkrong? Haruskah kita memaksa orang-orang yand tidak saling menyukai untuk berpacaran? Tentu saja tidak. Tapi kemudian dengan hak apa pemerintah memaksa pengusaha untuk mempekerjakan orang-orang yang sebenarnya tidak mau pengusaha itu mempekerjakan? Dan dengan hak apa pemerintah memaksa pemilik klub untuk menerima pelanggan yang tidak diinginkan oleh pemilik klub itu? Sebagai libertarian kami percaya bahwa hukum dengan bentuk seperti itu tidak hanya salah, tetapi juga kontraproduktif (mengakibatkan terjadinya hal yang sebaliknya dari yang diinginkan). Hukum tersebut menyebabkan kebencian dan konflik ketimbang toleransi dan harmoni.

Libertarianisme bukanlah ‘nationalisme’ atau ‘politik yang memuja negara’, tidak progresif dan tidak konservatif, tidak ‘kekirian’ (demokratis-sosialis) dan tidak ‘kanan’ (politik yang menginginkan negara yang kuat). Orang-orang progresif mendukung campur tangan pemerintah dalam perekonomian tetapi bersedia (kadang-kadang) membuka peluang bagi tingkat kebebasan pribadi yang wajar. Orang konservatif mendukung campur tangan pemerintah dalam hal pilihan pribadi tetapi bersedia (kadang-kadang) untuk membuka peluang bagi tingkat kebebasan ekonomi yang wajar. Namun keduanya memiliki kesamaan bahwa mereka menganggap individu adalah anak buah negara, anak buah dari kolektif. Libertarianisme adalah satu-satunya filsafat politik yang mengatakan bahwa kolektif tidak memiliki hak untuk memerintah individu. Libertarianisme adalah satu-satunya filsafat politik yang bertentangan dengan inisiasi kekuatan pada prinsipnya, yaitu menolak segala jenis penggunaan kekuatan kecuali dalam membela diri. Berdasarkan prinsip ini libertarianisme juga melawan kolonialisme, imperialisme dan intervensi asing (seperti perang).

Libertarianisme bukanlah filosofi baru, melainkan didasarkan pada tradisi lama. Cita-cita liberal pemikir-pemikir terkenal abad ke-17 dan ke-18 sangat dekat dengan cita-cita libertarian. Kini kita menyebut filosofi mereka 'liberal klasik' untuk membedakannya dari 'liberalisme' masa kini, yang sesungguhnya lebih merupakan sebuah versi demokrasi sosial daripada filosofi kebebasan. Pada abad ke-19, libertarianisme dipertahankan oleh sejumlah orang 'kapitalis-anarko' dan sekelompok ahli ekonomi liberal klasik, terutama dari Austria. Kini sebuah pusat akademik libertarianisme di AS adalah Institut Mises, dinamai atas ahli ekonomi pasar bebas yang terkenal Ludwig von Mises. Pada tahun 1974 Friedrich Hayek, seorang murid Mises, menerima penghargaan Nobel di bidang ekonomi. Pemikir libertarian abad ke-20 yang paling terkenal adalah seorang murid Mises yang lain, ahli ekonomi dan intelektual AS Murray Rothbard yang memiliki pengetahuan yang sangat luas. Bukunya ‘For a New Liberty’ (‘Untuk Mencapai Kebebasan yang Baru‘) mungkin masih merupakan pengenalan ke dalam libertarianisme yang terbaik yang tersedia saat ini.

Namun, Mises dan Rothbard tidak pernah menghasilkan analisis mengenai fenomena demokrasi yang begitu mendalam. Pemikir libertarian yang pertama melakukannya adalah ahli ekonomi Jerman Hans-Hermann Hoppe, yang tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Bukunya yang berjudul ‘Democracy: The God that Failed’ (2001) (‘Demokrasi: Tuhan yang Gagal’) untuk sekarang adalah standar karya tulis libertarian di bidang ini.

Beberapa tahun terakhir ini, sebagian berkat hasil kerja Hoppe, ide demokrasi telah lebih diperhatikan oleh para penulis-penulis libertarian, tetapi sebagian besar kritik mereka hanya dapat ditemukan dalam artikel yang diterbitkan di berbagai majalah dan website libertarian seperti Mises.org. Sejauh yang kami ketahui, tidak ada kritik libertarian populer secara menyeluruh tentang demokrasi yang pernah diterbitkan. Kami berharap celah ini telah terisi dengan adanya buku ini.

Untuk informasi lebih lanjut tentang buku ini, Anda bisa berkunjung ke website kami www.kegagalandemokrasi.com. Di Belanda informasi lebih lanjut mengenai libertarianisme dapat ditemukan di situs web berbahasa Belanda milik Frank Karsten, www.meervrijheid.nl.