Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Sudah membacanya. Luar biasa. Hebat. Selamat."
Hans-Hermann Hoppe, penulis 'Demokrasi: Tuhan yang Gagal'

Pengantar: Demokrasi - Tabu terkini





"Apabila saat ini demokrasi menderita sebuah penyakit, maka hanya demokrasi jugalah yang dapat menyembuhkannya." Kutipan lawas dari seorang politikus Amerika tersebut dengan ringkas menunjukkan bagaimana sistem demokrasi politik kita umumnya dipandang. Rakyat sudah siap untuk menyetujui bahwa demokrasi mungkin memiliki masalah - mereka bahkan mungkin setuju bahwa banyak demokrasi parlementer Barat, termasuk yang ada di Amerika Serikat, mungkin berada di ambang kehancuran - tetapi mereka tidak dapat membayangkan adanya sebuah sistem politik alternatif. Satu-satunya obat yang dapat mereka pikirkan adalah, memang, demokrasi lagi.

Sedikit yang akan menyangkal bahwa sistem demokrasi parlementer kita berada dalam krisis. Di mana-mana rakyat dari negara demokrasi merasa tidak puas dan sangat terpecah belah. Politisi mengeluh bahwa pemilih berperilaku seperti anak manja, rakyat mengeluh bahwa politisi tuli dengan keinginan mereka. Pemilih berubah menjadi sosok yang gemar berganti partai. Secara rutin mengalihkan kesetiaan mereka dari satu partai politik ke yang lain. Mereka juga merasa semakin tertarik dengan partai yang radikal dan populis (memperjuangkan keinginan rakyat). Di mana-mana pandangan politik terus terpecah-belah, semakin sulit untuk mengatasi perbedaan dan membentuk pemerintah yang dapat bekerja dengan baik.

Partai-partai politik yang ada tidak memiliki jawaban untuk tantangan ini. Mereka tidak mampu untuk mengembangkan alternatif yang nyata. Mereka terjebak dalam struktur partai yang kaku, cita-cita mereka dibajak oleh kelompok kepentingan khusus dan pelobi. Hampir tidak ada pemerintahan demokratis yang mampu mengontrol pengeluarannya. Sebagian besar negara demokrasi telah meminjam, mengeluarkan dan menarik pajak secara berlebihan sehingga mengakibatkan krisis keuangan yang membawa berbagai negara ke jurang kebangkrutan. Dan pada kesempatan langka ketika keadaan memaksa pemerintah untuk mengurangi pengeluarannya mereka setidaknya untuk sementara, pemilih bangkit memprotes apa yang mereka yakini adalah sebuah serangan terhadap hak-hak mereka, hal ini membuat segala jenis pengurangan pengeluaran yang nyata menjadi mustahil.

Meskipun dengan pengeluaran yang boros, tetap saja tingkat pengangguran yang tinggi ada di hampir semua negara demokratis. Sekelompok besar orang tetap berada di dalam ketidakpastian. Hampir tidak ada negara demokratis yang membuat ketentuan yang memadai untuk kaum lansia.

Biasanya masyarakat demokratis menderita atas banyaknya birokrasi dan hambatan peraturan. Tangan-tangan Negara menjangkau ke kehidupan semua orang. Ada aturan dan peraturan untuk segalanya. Dan setiap masalah akan diatasi melalui aturan dan peraturan itu lagi daripada solusi sesungguhnya.

Pada saat yang sama pemerintahan demokratis melakukan pekerjaan yang buruk dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas mereka yang utama - menjaga hukum dan ketertiban. Kejahatan dan vandalisme merajalela. Polisi dan sistem peradilan tidak dapat diandalkan dan dapat disuap. Perilaku yang tak bersalah dihukum. Sebagai persentase dari populasi, Amerika Serikat memiliki jumlah tahanan penjara yang terbesar di dunia. Banyak dari mereka yang dipenjara karena perilaku yang memang tidak berbahaya, tetapi hanya karena kebiasaan mereka dianggap aneh atau tidak biasa oleh kaum mayoritas.

Menurut penelitian, kepercayaan masyarakat terhadap politisi yang dipilih secara demokratis telah menurun secara drastis ke titik yang paling rendah. Ada rasa ketidakpercayaan yang mendalam terhadap pemerintah, penguasa politik, kaum elit dan lembaga internasional yang tampaknya telah menempatkan diri mereka di atas hukum. Banyak yang menjadi pesimis dengan masa depan. Mereka takut anak-anak mereka akan mengalami nasib yang lebih buruk dari mereka. Mereka takut dengan serbuan imigran (pendatang), khawatir bahwa budaya mereka terancam dan bernostalgia merindukan kondisi masa lalu.

Iman demokrasi

Meskipun krisis dari demokrasi telah diakui secara luas, hampir tidak ada kritik terhadap sistem demokrasi itu sendiri. Hampir tidak ada yang menyalahkan demokrasi untuk masalah-masalah yang kita alami. Tanpa kecuali pemimpin politik - baik nasionalis, religius atau sekular - berjanji untuk mengatasi masalah kita dengan lebih banyak demokrasi lagi, bukan lebih sedikit. Mereka berjanji akan mendengarkan rakyat dan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Mereka berjanji akan mengurangi birokrasi, menjadi lebih terus terang, memberikan pelayanan yang lebih baik - membuat sistem politik berfungsi lagi. Tapi mereka tidak pernah mempertanyakan mengapa sistem demokrasi itu sendiri diinginkan. Mereka akan lebih cepat berpendapat bahwa masalah kita disebabkan oleh terlalu banyaknya kebebasan daripada terlalu banyaknya demokrasi. Satu-satunya perbedaan antara kaum progresif dan kaum konservatif adalah yang pertama cenderung mengeluh tentang terlalu banyaknya kebebasan ekonomi, dan yang kedua mengeluh tentang terlalu banyaknya kebebasan sosial. Padahal ini terjadi pada saat di mana begitu banyak hukum yang berlaku dan pajak juga belum pernah setinggi ini!

Pada kenyataanya, kritik terhadap ide demokrasi sepertinya tabu atau dilarang secara moral di masyarakat barat. Anda diperbolehkan untuk mengkritik bagaimana cara demokrasi dipraktekkan, atau untuk mengkritik pemimpin politik atau partai politik yang sedang menjabat - tetapi cita-cita demokrasi itu sendiri tidak dikritisi.

Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa demokrasi telah menjadi sebuah agama (kepercayaan) – agama yang modern dan sekuler. Anda bisa menyebutnya sebagai kepercayaan terbesar di bumi. Semua kecuali sebelas negara - Myanmar, Swaziland, Vatikan dan beberapa negara Arab – menyebut dirinya sebagai negara demokrasi, bahkan walapun hanya dalam perkataan. Kepercayaan terhadap Tuhan Demokrasi berhubungan erat dengan pengagungan sistem negara demokrasi nasional yang muncul sepanjang abad ke-19. Tuhan dan Gereja digantikan dengan Negara sebagai pemimpin suci masyarakat. Pemilu demokratis adalah ritual di mana kita berdoa kepada Negara untuk pekerjaan, tempat tinggal, keamanan, pendidikan. Kita memiliki keyakinan mutlak kepada Negara Demokrasi. Kita percaya Dia bisa mengurus semuanya. Dia adalah pemberi upah, hakim, yang Mahatahu, Mahakuasa. Kita bahkan mengharapkan Dia untuk memecahkan semua masalah pribadi dan sosial.

Keindahan Tuhan Demokrasi adalah bahwa Dia menyediakan kebaikan-Nya benar-benar tanpa pamrih. Sebagai Tuhan, Negara tidak memiliki kepentingan pribadi. Dia adalah murni penjamin dan pelindung kepentingan umum. Dia juga tidak membutuhkan biaya apapun. Dia membagikan roti, ikan dan kemurahan lainnya dengan bebas.

Setidaknya, begitulah pikiran rakyat mengenai pemerintah. Kebanyakan orang cenderung hanya melihat manfaat yang bisa pemerintah berikan, bukan biayanya. Salah satu alasan untuk ini adalah pemerintah suka mengumpulkan pajak dengan berputar-putar dan tidak langsung - misalnya mewajibkan bisnis atau penjual untuk mengumpulkan pajak penjualan, atau mewajibkan perusahaan untuk mengumpulkan pajak jaminan sosial, atau dengan meminjam uang di pasar keuangan (yang suatu hari akan harus dibayar kembali oleh pembayar pajak) atau dengan menambah jumlah uang beredar - sehingga rakyat tidak menyadari berapa banyak pendapatan mereka yang sebenarnya disita oleh pemerintah. Alasan lain adalah bahwa hasil dari tindakan pemerintah terlihat dan nyata, tapi semua hal yang sebenarnya bisa dilakukan dan akan dilakukan apabila pemerintah tidak menyita uang rakyat tersebut tetap tidak terlihat. Rakyat bisa melihat pesawat militer yang telah dibangun, tetapi semua hal yang tidak bisa dilakukan karena uang masyarakat dihabiskan untuk membangun pesawat militer tersebut tetap tidak terlihat.

Kepercayaan terhadap demokrasi telah menjadi begitu teguh sehingga demokrasi bagi kebanyakan orang adalah sama dengan segala sesuatu yang (secara politik) tepat dan moral. Demokrasi berarti kebebasan (semua orang diperbolehkan untuk memilih), kesetaraan (setiap suara dihitung sama), keadilan (semua orang setara), kesatuan (kita semua memutuskan bersama), perdamaian (demokrasi tidak pernah memulai perang yang tidak adil). Dalam cara berpikir ini satu-satunya pilihan lain selain demokrasi adalah kediktatoran. Dan kediktatoran, tentu saja, merupakan segala sesuatu yang buruk: kurangnya kebebasan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, perang.

Pemikir neo-konservatif Francis Fukuyama dalam esainya pada tahun 1989 yang terkenal, 'The End of History?" (Akhir Sejarah?) dengan berani menyatakan bahwa sistem demokrasi modern barat adalah puncak dalam perkembangan atau evolusi politik umat manusia. Atau, seperti yang ia katakan, hari ini kita menyaksikan 'universalisasi demokrasi liberal barat sebagai bentuk final sistem pemerintahan manusia'. Jelas hanya kelompok yang sangat jahat (teroris, kaum fundamentalis, kaum fasis) akan berani bersuara menentang ide demokrasi yang suci ini.