Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Sudah membacanya. Luar biasa. Hebat. Selamat."
Hans-Hermann Hoppe, penulis 'Demokrasi: Tuhan yang Gagal'

Desentralisasi dan kebebasan individu





Apakah mungkin ada sebuah alternatif untuk demokrasi? Sebuah masyarakat tanpa negara utama, tanpa aturan mayoritas, masyarakat yang bebas dan mau berkerja-sama?

Tentu saja. Alternatif tersebut sangat diperlukan jika kita tidak ingin terpeleset kepada tirani (penindasan) dan stagnasi (kemacetan). Dunia membutuhkan ideal yang baru. Sebuah cita-cita yang menggabungkan dinamika dan kebebasan individu dengan harmoni sosial.

Ideal seperti itu tidak utopis (sebuah khayalan). Hal itu dapat dicapai. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi peran pemerintah. Rakyat perlu untuk mendapatkan kembali kontrol atas hidup mereka dan hasil kerja mereka. Tanpa aturan-aturan yang menggangu dan perpajakan rakyat akan membuat lingkungan yang aman, nyaman untuk ditinggali dan komunitas yang berkelanjutan. Mengapa rakyat tidak bisa menghabiskan uang mereka sendiri seperti yang mereka inginkan dan membeli asuransi, perawatan kesehatan dan pendidikan yang mereka pilih? Apakah bencana besar yang akan menimpa kita apabila itu terjadi? Mengapa Negara harus mengambil uang rakyat melalui pajak dan membuat semua keputusan itu untuk mereka? Rakyat harus diberikan kebebasan mereka kembali untuk memilih sendiri, untuk memecahkan masalah mereka seperti yang mereka lihat sesuai - secara individual atau, mungkin lebih sering, bersama-sama. Karena tanpa kerjasama, ketertiban dan kemakmuran adalah tidak mungkin. Tetapi kerjasama hanya dapat benar-benar bekerja apabila atas dasar sukarela, berdasarkan kesepakatan bersama.

Rakyat harus kembali mendapatkan kontrol atas hasil kerja mereka sendiri. Mereka harus memiliki kebebasan untuk membuat komunitas lokal mereka sendiri - agama, komunis, kapitalis, etnis, dan sebagainya. Ini mungkin bisa diatur secara 'demokratis', apabila warga menginginkannya, atau tidak, jika mereka tidak menginginkannya.