Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Sudah membacanya. Luar biasa. Hebat. Selamat."
Hans-Hermann Hoppe, penulis 'Demokrasi: Tuhan yang Gagal'

Mengapa semuanya terus menjadi lebih buruk





Pertanyaannya adalah berapa lama situasi ini dapat berlanjut, mengingat ketidakpuasan dalam masyarakat dan ketidakstabilan sistem politik dan ekonomi. Banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem ini. Politisi dan pemuka opini meratapi perpecahan lanskap politik, perilaku pemilih yang tidak stabil, pendangkalan dan sensasionalisme media. Rakyat mengeluh bahwa politisi tidak mendengarkan mereka, bahwa mereka tidak mendapatkan yang apa dijanjikan dan bahwa Kongres adalah sandiwara, sebuah ejekan dari pemerintahan yang baik. Namun, mereka berpikir inti permasalahan adalah terpilihnya politisi yang salah atau isu-isu sampingan seperti imigrasi atau globalisasi, bukan pada kekurangan yang melekat dalam sistem demokrasi itu sendiri.

Saat ini tidak ada yang benar-benar tahu ke mana harus pergi dari sini. Setiap orang terjebak dalam visi terowongan yang disebut demokrasi. Satu-satunya 'solusi' yang terpikirkan oleh rakyat adalah 'lebih banyak demokrasi', yaitu lebih banyaknya campur tangan pemerintah. Apakah anak muda terlalu banyak minum alkohol? Naikkan batas usia minum alkohol! Apakah penderita penyakit kronis diabaikan di panti jompo? Kirim lebih banyak pengawas pemerintah! Apakah ada kekurangan inovasi? Buatlah Dewan Inovasi pemerintah! Apakah terlalu sedikit yang dipelajari oleh anak-anak di sekolah? Paksakan lebih banyak ujian! Apakah kejahatan terus meningkat? Dirikan sebuah departemen pemerintah baru! Mengatur, melarang, memaksa, mencegah, memeriksa, menginspeksi, memanjakan, mereformasikan dan, yang paling utama, menghabiskan uang untuk mengatasi masalahnya.

Dan bagaimana jika semua itu tidak berhasil? Akhirnya akan terdengar seruan untuk seorang Pemimpin Besar, orang yang mampu mengakhiri semua kegagalan dan akan menegakkan hukum dan ketertiban. Tentu saja ada logikanya untuk hal ini. Jika semuanya perlu diatur oleh negara, maka mengapa tidak sekalian saja dilakukan dengan benar oleh seorang diktator yang baik hati? Berakhirlah semua penundaan tak berujung, keraguan, pertengkaran, pemborosan. Tapi ini akan menjadi sebuah kesepakatan dengan iblis yang terselubung. Memang benar kita akan mendapatkan “hukum dan ketertiban”. Tapi harga yang harus dibayar adalah berakhirnya kebebasan, semangat hidup dan pertumbuhan.

Untungnya, ada cara yang lain, meskipun banyak orang mungkin merasa sulit untuk membayangkannya. Caranya adalah: kurangi demokrasi. Kurangi pemerintahan. Tambahkan kebebasan individu.

Bagaimana cita-cita libertarian ini mungkin terlihat dalam prakteknya akan dibahas pada bab terakhir buku ini.