Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Sudah membacanya. Luar biasa. Hebat. Selamat."
Hans-Hermann Hoppe, penulis 'Demokrasi: Tuhan yang Gagal'

Mengapa semuanya terus menjadi lebih buruk





Secara teori rakyat bisa memilih sebuah sistem yang berbeda, yang tidak terlalu birokratik dan lebih irit. Dalam prakteknya, ini tidak mungkin terjadi karena terlalu banyak orang yang memiliki kepentingan didalamnya dan ingin melestarikan sistem tersebut. Dan seiring dengan pemerintah yang secara perlahan tumbuh menjadi lebih besar, kelompok ini juga ikut bertumbuh lebih besar. Seperti yang ditunjukan oleh Ludwig von Mises, ahli ekonomi Austria yang terkenal, birokrasi akan menolak setiap jenis perubahan dengan semua kekuatannya. "Birokrat bukan hanya pegawai pemerintah", Mises menulis. "Di bawah UUD yang demokratis dia pada saat yang sama adalah seorang pemilih dan juga bagian dari sang penguasa, majikannya. Dia berada dalam posisi yang aneh: dia adalah majikan dan karyawan. Dan tujuan keuangannya sebagai karyawan lebih penting dari minatnya sebagai majikan karena ia mendapatkan lebih banyak dari dana publik daripada apa ia berikan kepada dana publik. Hubungan ganda ini menjadi semakin penting dengan semakin meningkatnya gaji pegawai pemerintahan. Birokrat sebagai pemilih lebih bersemangat untuk mendapatkan kenaikan gaji daripada menjaga keseimbangan anggaran. Perhatian utamanya adalah pembengkakan gaji mereka."

Milton Friedman seorang ahli ekonomi membagi pengeluaran uang menjadi empat jenis. Yang pertama adalah ketika Anda menghabiskan uang Anda untuk diri sendiri. Anda akan mencari kualitas dan menghabiskan uang Anda secara efisien. Ini secara umum adalah bagaimana uang dibelanjakan di sektor swasta. Jenis kedua adalah ketika Anda menghabiskan uang Anda untuk orang lain, misalnya ketika membelikan makan malam untuk seseorang. Anda pasti masih peduli tentang jumlah yang akan Anda belanjakan, tetapi Anda sudah tidak terlalu peduli tentang kualitasnya. Jenis ketiga adalah ketika Anda menghabiskan uang orang lain untuk diri sendiri, seperti ketika Anda membeli makan siang dengan rekening pengeluaran perusahaan Anda. Anda akan cenderung untuk tidak memilih berhemat, tetapi Anda akan tetap berusaha untuk memilih makan siang yang tepat. Jenis keempat adalah ketika menghabiskan uang orang lain untuk orang lain. Di sini Anda tidak akan peduli lagi tentang kualitas atau biaya. Pada umumnya, inilah cara pemerintah menghabiskan uang pajak Anda.

Politisi jarang diminta bertanggung jawab atas tindakan mereka yang ternyata merugikan dalam jangka panjang. Mereka mendapatkan pujian atas niat baik mereka dan hasil positif awal dari program mereka. Konsekuensi negatif jangka panjang (misalnya, utang yang harus dibayar) akan menjadi tanggung jawab penerus mereka. Sebaliknya, politisi cenderung untuk tidak begitu peduli pada program-program yang akan akan terlihat hasilnya setelah mereka meninggalkan posisi mereka karena penerus merekalah yang akan dapat mendapatkan manfaatnya.

Dengan demikian, pemerintahan demokratis selalu menghabiskan uang lebih banyak dari apa yang mereka terima. Mereka memecahkan masalah ini dengan menaikkan pajak atau bahkan lebih baik - karena pajak cenderung dibenci oleh orang-orang yang harus membayarnya - dengan meminjam uang atau hanya dengan mudah mencetaknya. (Perhatikanlah bahwa politisi demokrasi cenderung untuk meminjam dari bank-bank favorit yang kemudian bisa diselamatkan oleh pemerintah jika bank-bank ini jadi memiliki terlalu banyak hutang.) Pemerintah demokratis jarang memotong anggaran mereka sendiri. Ketika mereka berbicara tentang "pengurangan", itu biasanya berarti pertumbuhan pengeluaran yang lebih lambat.

Mencetak uang tentu saja menyebabkan inflasi (nilai uangnya menurun) yang berarti terjadinya penurunan yang tetap terhadap nilai tabungan masyarakat. Meminjam uang menyebabkan peningkatan hutang nasional dan menyebabkan pembayaran bunga yang ditanggung oleh generasi mendatang. Kini hutang publik di hampir semua negara demokrasi di dunia telah menjadi begitu tinggi sehingga mereka tidak mungkin dapat dilunasi. Yang lebih buruk lagi adalah bahwa lembaga yang mengurus dana pensiun telah secara besar-besaran membeli hutang pemerintah karena dipikirnya hal itu akan menjadi investasi jangka panjang yang baik. Itu adalah lelucon yang kejam. Banyak orang yang tidak akan pernah menerima pensiun yang mereka harapkan karena uang yang mereka masukkan ke dalam dana pensiun telah habis disia-siakan.

Namun terlepas dari semua masalah yang diberikan oleh demokrasi kepada kita, kita terus berharap dan percaya bahwa, setelah pemilu berikutnya, segalanya akan berubah. Pikiran ini membuat kita terjebak ke dalam lingkaran setan: Ketika sistem tidak memberikan apa yang dijanjikan, rakyat menjadi tidak puas dan menuntut adanya peningkatan, politisi lebih banyak lagi mengobral janji-janjinya, harapan naik menjadi lebih tinggi lagi, kekecewaan yang tak terelakkan menjadi lebih besar lagi, dan sebagainya. Warga di dalam sebuah demokrasi adalah seperti pecandu alkohol yang perlu minum alkohol lebih banyak untuk menjadi mabuk, setiap kali mereka minum akan berakhir dengan rasa sakit karena mabuk yang lebih besar. Bukannya menyimpulkan bahwa mereka harus menjaga jarak dengan alkohol, mereka malahan menginginkan lebih banyak lagi. Mereka telah benar-benar lupa bagaimana cara mengurus dirinya sendiri dan tidak lagi bertanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri.