Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Buku ini menjelaskan dengan sangat gamblang. Membuka cakrawala pikiran Anda."
Jeffrey Tucker, editor eksekutif dari Laissez Faire Books

Menuju kebebasan baru





Merupakan sebuah ilusi untuk berpikir bahwa masalah yang dihadapi masyarakat kita dapat diselesaikan dengan ‘lebih banyak demokrasi'. Apalagi mengatakan bahwa demokrasi adalah yang terbaik dari semua sistem yang mungkin ada.

Demokrasi berasal pada masa di mana ruang lingkup pemerintahan relatif kecil. Satu setengah abad kemudian, bagaimanapun juga demokrasi telah mengakibatkan ekspansi pemerintahan yang luar biasa di semua negara demokrasi. Hal ini juga menyebabkan situasi di mana kita tidak hanya harus takut dengan Pemerintah tetapi juga sesama warga negara yang mampu memperbudak kita melalui kotak suara.

Kepercayaan buta terhadap demokrasi di masyarakat kita merupakan hal yang tidak jelas. Ini sebenarnya adalah sebuah fenomena yang muncul belakangan ini. Mungkin adalah hal yang mengejutkan bagi banyak pembaca, tetapi para pendiri utama negara Amerika Serikat - seperti Benjamin Franklin, Thomas Jefferson dan John Adams - yang tanpa pengecualian menentang demokrasi. "Demokrasi," kata Benjamin Franklin, "adalah dua serigala dan seekor domba memilih untuk memutuskan apa yang mereka inginkan untuk untuk makan siang. "Kebebasan," ia menambahkan, "adalah domba yang memiliki senjata ikut serta dalam pemungutan suara." Thomas Jefferson mengatakan bahwa demokrasi "tidak lebih dari aturan masyarakat, di mana 51% dari masyarakat dapat mengambil hak-hak 49% lainnya."

Mereka tidak sendirian. Sebagian besar kaum intelektual liberal-klasik dan konservatif di abad 18 dan 19, termasuk pemikir terkenal seperti Lord Acton, Alexis de Tocqueville, Walter Bagehot, Edmund Burke, James Fenimoore Cooper, John Stuart Mill dan Thomas Macaulay, menentang demokrasi. Penulis konservatif terkenal Edmund Burke menulis: "Mengenai hal ini saya yakin, bahwa dalam demokrasi mayoritas warga bisa melakukan penindasan yang paling kejam terhadap kaum minoritas ... dan bahwa penindasan terhadap kaum minoritas akan mencakup jumlah yang jauh lebih besar dan akan dilakukan pada tingkat kemarahan yang jauh lebih besar, daripada yang bisa diakibatkan oleh seorang penguasa tunggal."

Thomas Macalauy, pemikir liberal terkenal dari Inggris, menyatakan sentimen yang sama: "Saya telah lama yakin bahwa lembaga-lembaga demokrasi murni secara cepat atau lambat akan menghancurkan kebebasan, atau peradaban, atau keduanya." Ini adalah ide yang sangat bisa diterima pada masa itu, seperti yang ditunjukan oleh Erik Ritter von Kuehnelt-Leddihn di dalam bukunya "Kebebasan atau Kesetaraan" (“Liberty or Equality”, 1951).

Selama akhir abad ke-19 dan abad ke-20, bagaimanapun, cita-cita liberal klasik semakin terdorong ke belakang dan digantikan oleh iman kepercayaan terhadap kolektivisme - sebuah gagasan bahwa individu adalah bawahan kelompok. Liberalisme (kebebasan) digantikan oleh berbagai bentuk kolektivisme - komunisme, sosialisme, fasisme dan demokrasi. Yang terakhir yaitu demokrasi, malahan dinilai menjadi ide untuk kebebasan. Tetapi seperti yang telah ditunjukkan di dalam buku ini, adalah benar-benar salah untuk menyamakan demokrasi dengan kebebasan. Seperti yang diakui para pemikir liberal-klasik di masa lalu, demokrasi sebenarnya - adalah bentuk sosialisme - yang cukup cerdas. Kemerdekaan yang masih tersisa dan kita miliki saat ini, adalah karena tradisi liberal klasik yang masih hidup di bagian barat bumi ini, bukan disebabkan oleh demokrasi.

Tradisi liberal-klasik ini, bagaimanapun, berada di bawah tekanan yang berat. Dengan setiap generasi baru yang tumbuh dikelilingi oleh propaganda demokrasi sehari-harinya, satu per satu bagian dari warisan liberal kita musnah. Tidak ada yang terkejut lagi ketika perempuan menuntut kuota pada posisi pimpinan perusahaan, ketika Negara mengeluarkan larangan untuk merokok di restoran atau ketika pemerintah memutuskan apa yang harus diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah. Tidak semua orang setuju dengan gagasan itu - tapi semua orang merasa adalah normal bahwa pemerintah harus memutuskan hal-hal tersebut. Hampir tidak ada perlawanan terhadap kenyataan bahwa kita hidup di bawah sistem yang mengganggu hidup kita sampai ke detail terkecil. Tidak ada prinsip perlawanan kepada gagasan bahwa bagaimana kita semua harus hidup harus diputuskan secara 'demokratis'.