Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Buku ini menjelaskan dengan sangat gamblang. Membuka cakrawala pikiran Anda."
Jeffrey Tucker, editor eksekutif dari Laissez Faire Books

Mitos 1 - Setiap suara diperhitungkan

Selama musim pemilu kita sering mendengar pernyataan bahwa suara Anda benar benar penting dan diperhitungkan. Tentu saja benar - untuk satu dari seratus juta (jika kita berbicara tentang pemilihan presiden AS). Dalam prakteknya jika Anda memiliki satu suara dari seratus juta itu adalah 0.000001%, maka pengaruhnya nol. Kemungkinan bahwa suara Anda memutuskan siapa yang akan memenangkan pemilu sangat kecil.

Dan itu sebenarnya bahkan lebih buruk, karena suara Anda bukan untuk kebijakan atau keputusan tertentu. Suara Anda untuk calon atau partai politik yang akan mengambil keputusan atas nama Anda. Tapi Anda tidak memiliki pengaruh apapun terhadap keputusan yang akan diambil oleh calon atau partai politik tersebut! Anda tidak dapat mengendalikan mereka. Selama empat tahun mereka dapat memutuskan apa yang mereka inginkan, dan Anda tidak dapat berbuat apa-apa. Anda dapat menghujani mereka dengan e-mail, berlutut dan memohon di depan mereka atau mengutuk mereka – tetap saja mereka yang memutuskan.

Setiap tahun pemerintah mengambil ribuan keputusan. Suara Anda tidak memiliki dampak terukur pada salah satu keputusan tersebut - politikus bisa melakukan apapun yang mereka suka tanpa harus berdiskusi dulu dengan Anda.

Suara yang Anda berikan dalam pemilu biasanya bahkan bukan pilihan sesungguhnya, tetapi seperti sebuah pilihan yang samar. Jarang ada orang atau partai politik yang Anda bisa setuju dengannya dalam segala hal. Misalkan Anda tidak ingin uang dihabiskan untuk memberi bantuan kepada negara-negara di Dunia Ketiga, atau perang di Afghanistan. Anda kemudian dapat memilih partai yang menentang hal itu. Tapi mungkin partai yang telah Anda dukung menaikkan usia pensiun, sesuatu yang Anda mungkin tidak setuju dengannya.

Yang lebih parah lagi, setelah partai atau calon yang Anda pilih, telah terpilih, mereka semua seringkali tidak menepati janji pemilu mereka. Lalu apa yang dapat Anda lakukan? Seharusnya, Anda dapat menuntut mereka untuk tindak penipuan, tetapi pada kenyataannya Anda tidak bisa. Paling-paling Anda bisa memilih partai yang lain atau calon yang lain setelah lima tahun – dan hasilnya kurang-lebih akan sama seperti itu lagi.

Pemilu adalah ilusi pengaruh suara rakyat untuk menggantikan hilangnya kebebasan. Ketika Adrian dan Putri pergi ke kotak suara, mereka berpikir mereka akan mempengaruhi ke mana arah negara ini. Benar dalam cakupan yang sangat kecil. Tetapi 99,9999% dari pemilih juga memutuskan ke mana arah kehidupan Adrian dan Putri. Melalui cara ini mereka kehilangan lebih banyak kontrol atas kehidupan mereka sendiri daripada pengaruh yang mereka miliki terhadap kehidupan orang lain. Mereka akan memiliki lebih banyak 'pengaruh' seandainya mereka bisa membuat pilihan untuk mereka dirinya sendiri. Misalnya, jika mereka bisa memutuskan sendiri untuk apa mereka membelanjakan uang mereka, tanpa terlebih dahulu harus membayar setengah dari pendapatan mereka kepada pemerintah melalui berbagai jenis pajak.

Sebagai contoh lain, dalam sistem demokrasi kita, rakyat memiliki sedikit kontrol langsung atas pendidikan anak-anak mereka. Jika mereka ingin mengubah praktik pendidikan dan ingin memiliki pengaruh lebih dari hanya melalui kotak suara, mereka harus bergabung dengan atau memulai sebuah kelompok lobi, atau memberikan petisi kepada politisi, atau melakukan demo di depan gedung-gedung pemerintah. Ada organisasi orang tua yang mencoba untuk mempengaruhi kebijakan pendidikan dengan cara ini. Dibutuhkan banyak waktu dan energi dan hasilnya hampir nol. Jauh lebih sederhana dan efisien jika negara tidak campur tangan dengan pendidikan, dan apabila guru, orang tua dan siswa dapat membuat pilihan mereka sendiri, baik secara individu maupun bersama-sama.

Tentu saja kelas yang berkuasa terus mendorong orang untuk memilih. Mereka selalu menekankan bahwa suara rakyat benar-benar mempengaruhi kebijakan pemerintah. Tapi apa yang benar-benar penting bagi mereka adalah bahwa tingkat partisipasi pemilu tinggi dan itu memberi mereka cap persetujuan, hak moral untuk memerintah rakyat.

Banyak orang memikir kalau berpartisipasi dalam pemilu adalah kewajiban moral. Sering dikatakan bahwa jika Anda tidak memilih, Anda tidak punya hak untuk mengatakan pendapat Anda dalam debat publik atau untuk mengeluh tentang keputusan politik. Karena Anda tidak berpartisipasi dalam pemilu, pendapat Anda tidak diperhitungkan lagi. Orang-orang yang mengatakan ini tampaknya tidak dapat membayangkan bahwa ada beberapa orang yang menolak untuk percaya ilusi pengaruh suara rakyat yang dijual demokrasi. Mereka menderita sindrom Stockholm. Mereka telah terbiasa bahkan mencintai penculik kebebasan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka memberikan otonominya (kebebasan pribadinya) untuk kekuasaan yang dimiliki para politisi dan pejabat atas mereka.