Tersedia dalam bahasa-bahasa berikut ini:
English edition Dutch edition German edition Polish edition Italian edition Brazilian edition French edition Serbian edition Swedish edition Indonesian edition Ukrainian edition Spanish edition Albanian edition Hungarian edition Macedonian edition Slovenian edition Chinese edition Russian edition Finnish edition Slovak edition
"Buku ini menjelaskan dengan sangat gamblang. Membuka cakrawala pikiran Anda."
Jeffrey Tucker, editor eksekutif dari Laissez Faire Books

Mitos 12: Kita semua demokrat

Jika demokrasi gagal untuk memberikan apa yang benar-benar diinginkan orang, bagaimana mungkin masih banyak orang yang mendukungnya? Karena bukankah setiap warga negara yang otaknya sehat adalah seorang demokrat, meskipun dia kadang-kadang mungkin mengeluh tentang pemerintah?

Nah, hal yang terakhir ini bisa didiskusikan. Apakah orang benar-benar mempercayai sesuatu, tidak tergantung pada apa yang dikatakan orang, tetapi pada apa yang dilakukan orang ketika dia memiliki kebebasan memilih. Jika seseorang dipaksa untuk makan ayam setiap hari dan dia bilang dia suka makan ayam, itu tidak begitu meyakinkan. Ini hanya dipercaya jika ia bebas untuk tidak makan ayam. Hal yang sama berlaku untuk demokrasi. Demokrasi adalah wajib. Setiap orang harus berpartisipasi di dalamnya. Individu, kota, ibu kota, kabupaten, propinsi mereka semua harus menyerahkan dirinya dan tidak ada yang bisa 'memisahkan diri'. Apakah orang akan pindah ke kota lain, 20 kilometer jauhnya, jika pajak di sana lebih rendah dan birokrasinya kurang mengganggu, meskipun jika mereka tidak diizinkan untuk ikut serta pada pemilu di sana? Sepertinya banyak yang akan pindah. Banyak orang sudah bermigrasi ke tempat yang lebih menguntungkan dan pindah ke daerah makmur di dunia di mana hanya ada sedikit demokrasi atau tidak ada demokrasi (misalnya Singapur).

Seseorang dalam sistem demokrasi yang mengatakan dia mendukung demokrasi terdengar seperti warga dari negara bekas Uni Soviet yang mengatakan ia akan memilih Lada (mobil komunis jelek) bahkan meskipun ia memiliki kesempatan untuk membeli Chevrolet (mobil AS) atau Volkswagen (mobil Jerman). Bisa jadi, tapi kemungkinannya kecil. Seperti warga negara Soviet yang tidak punya pilihan selain Lada, kita tidak punya pilihan selain demokrasi.

Sebenarnya, banyak orang demokrat yang berakal sehat pasti akan senang kalau bisa menghindari tindakan yang seharusnya mereka lakukan melalui kotak suara. Jika mereka punya pilihan, apakah rakyat benar-benar secara sukarela membayar pajak jaminan sosial kepada pemerintah tanpa tahu apakah jaminan sosial itu masih bermanfaat pada saat mereka pensiun? Berapa banyak layanan pemerintah yang berkualitas rendah, tapi harganya tinggi, yang mereka bersedia membayarnya secara sukarela jika mereka memiliki pilihan untuk menghabiskan uang mereka untuk apapun yang mereka inginkan?

Ahli ekonomi Amerika Walter Williams mengakui fakta bahwa pada umumnya kita tidak ingin keputusan pribadi kita untuk menjadi keputusan yang demokratis. Dia menulis: "Untuk menyoroti serangan terhadap kebebasan yang dilakukan demokrasi dan kekuasaan mayoritas, tanyalah pada diri sendiri berapa banyak keputusan dalam hidup Anda yang ingin Anda ambil secara demokratis. Misalnya, tentang mobil yang Anda kendarai, di mana Anda tinggal, dengan siapa Anda menikah, apakah Anda mau makan babi atau ayam untuk makan malam? Jika keputusan-keputusan ini dibuat melalui proses yang demokratis, rata-rata orang akan menganggapnya sebagai tirani dan bukan kebebasan pribadi. Bukankah itu tirani kalau proses demokratis yang memutuskan tentang membeli asuransi kesehatan atau menyisihkan uang untuk masa pensiun? Kita seharusnya menganjurkan kebebasan, baik bagi kita sendiri maupun bagi semua manusia di dunia, bukan demokrasi yang telah kita terapkan dimana DPR yang korup bisa melakukan apa saja selama dapat mengumpulkan suara mayoritas."

Kenyataan bahwa banyak pendukung demokrasi tidak benar-benar percaya pada ide-ide yang mereka promosikan dapat dilihat dalam perilaku munafik politisi demokratis dan pejabat pemerintah yang sering sekali tidak mempraktekkan yang mereka khotbahkan. Pikirkanlah politisi sosialis yang mengkritik gaji tinggi eksekutif bisnis dan kemudian bekerja untuk perusahaan ketika mereka pensiun dari politik. Atau politisi yang memberitakan berkah toleransi terhadap budaya lain dan orang asing tetapi tinggal di lingkungan orang berkulit putih dan menyekolahkan anak mereka ke sekolah-sekolah di mana semua murid berkulit putih. Atau politisi yang mendorong perang tetapi tidak pernah akan mengirimkan anak-anak mereka sendiri untuk berperang.

Ada beberapa alasan mengapa orang-orang mendukung demokrasi, meskipun perilaku mereka menunjukkan sebaliknya. Pertama, hal itu dapat dimengerti karena orang berpikir, kemakmuran kita tergantung pada sistem politik kita. Rakyat di alam demokrasi Barat cukup kaya dan hidup di dalam sistem demokrasi, jadi demokrasi pastilah sistem yang baik, demikian pendapat mereka. Tapi ini keliru. Bandingkanlah hal ini dengan yang dikatakan beberapa pembela Uni Soviet tentang Lenin dan Stalin. Tentu saja, diktator-diktator ini mungkin memang telah melakukan kekejaman, tetapi rakyat tetap harus berterima kasih kepada mereka karena di bawah kekuasaan mereka Uni Soviet berkembang dan semua orang mendapat pasokan listrik. Tapi Rusia tetap akan dialiri 'listrik' dan perkembangan industri di abad ke-20, sekalipun jika Lenin dan Stalin tidak pernah hidup. Demikian pula, kemajuan yang telah kita buat dalam masyarakat kita tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan sistem politik kita. Lihatlah Cina. Perekonomian Cina tumbuh dengan kecepatan sangat tinggi, namun negara ini tidak memiliki demokrasi. Kemakmuran didasarkan pada tingkat kebebasan ekonomi yang dinikmati orang dan pada keamanan hak milik mereka, bukan pada tingkat demokrasi.

Alasan kedua mengapa orang cenderung mendukung sistem demokratis kita adalah karena mereka merasa sulit untuk membayangkan hidupnya kalau bisa menyimpan semua uang yang mereka dapatkan dan tidak harus membayar pajak. Anda dapat melihat jalan-jalan yang ‘gratis’ (tanpa tol) untuk umum tempat Anda mengendarai mobil Anda tetapi Anda tidak dapat melihat pusat perawatan kesehatan baru yang dibangun dengan uang yang sama. Anda juga tidak bisa membayangkan dapat melakukan perjalanan liburan jika Anda tidak harus membayar untuk perang yang dilakukan negara Anda. Contoh lebih halus adalah inovasi yang akan terjadi jika pemerintah tidak ikut campur dalam perekonomian. Dalam era pasar bebas pasti lebih banyak perawatan medis baru dan mampu menyelamatkan nyawa yang telah dikembangkan, bila tidak tertutupi oleh birokrasi.

Rakyat sering berpikir pemerintah menyediakan banyak layanan secara gratis tetapi ada harga tersembunyi yang harus dibayar: semua kemungkinan - layanan, produk, inovasi - yang tidak diciptakan karena sarana untuk melakukannya telah dirampas oleh Negara. Rakyat hanya melihat apa yang disulap keluar dari topi pemerintah bukan yang menghilang ke dalamnya.

Alasan ketiga mengapa kita semua berpikir bahwa kita semua orang demokratis yaitu karena kita terus diberitahu begitu. Sekolah, media, politisi, mereka semua terus-menerus memberikan pesan bahwa satu-satunya kemungkinan pengganti dari demokrasi adalah kediktatoran. Mengingat status demokrasi ini yang saleh, sebagai benteng melawan kejahatan, siapa yang berani menentang demokrasi?